Cari Blog Ini

Memuat...

15.9.11

Manajemen Air Kolam Lele Paiton : PENGELOLAAN KUALITAS AIR LELE PAITON


Keistimewaan Air
Air adalah satu-satunya benda di atas bumi ini yang dalam kondisi sehari-hari dapat kita jumpai dalam 3 ujud sekaligus: cair (air), gas (uap air) dan padat (es). Air merupakan sumber kehidupan dan konon pula merupakan asal-muasal kehidupan itu sendiri di planet ini.

Kualitas Air
Secara umum kualitas air berhubungan dengan kandungan bahan terlarut didalamnya. Tingkat kandungan dari bahan tersebut akan menentukan kelayakannya. Setiap mahluk hidup memerlukan kandungan bahan terlarut yang berbeda, sehingga kualitas airpun bersifat relatif bagi satu mahluk hidup ke mahluk hidup yang lain.

Bahan Terlarut
Tidak semua bahan terlarut dalam air berbahaya bagi kehidupan ikan hias, beberapa diantaranya justru sangat diperlukan dan wajib ada. Bahan tersebut adalah oksigen. Untuk tumbuhan air karbon dioksida diperlukan kehadirannya. Sedangkan untuk penghuni air laut kalsium sangat diperlukan.
Bahan terlarut lain yang diketahui tidak menguntungkan dan bahkan beracun adalah amonia.  Nnitrat sampai tahap tertentu berakibat buruk pada ikan, Begitu juga dengan beberapa kandungan logam berat . Satu bahan yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari tetapi sangat fatal bagi ikan adalah klorin. Bahan ini kerap ditemukan dalam air olahan suatu perusahaan air minum yang sering dipergunakan sebagai salah satu sumber air akuarium

Parameter Umum
Air untuk keperluan kehidupan ikan, tanaman dan komunitas air lainya sering dinyatakan dengan parameter umum sbb: pH, KH, GH, alkalinitas, kesadahan, salinitas, dan temperatur.

Air dalam budidaya lele
Perairan air tawar atau sumber air tawar yang cocok sebagai wadah/lokasi budidaya air tawar adalah perairan yang memenuhi kriteria kesesuaian lahan untuk budidaya masing-masing organisme. Kriteria lingkungan untuk kegiatan budidaya air tawar meliputi beberapa faktor yaitu : faktor fisik , faktor kimia dan faktor biologi perairan.


Perairan air tawar parameter lingkungan fisik yang menjadi pertimbangan adalah : suhu,kecerahan, kekeruhan, kedalaman, dan debit air. Faktor kimia  meliputi pH, BOD, COD, oksigen terlarut, amoniak, nitrit, nitrat, pospat, karbondioksida, alkalinitas, H2S, serta logam berat.


Sedang faktor biologi lingkungan yang menjadi pertimbangan pada kegiatan budidaya air tawar adalah: jenis , kepadatan dan keragaman plankton (fitoplankton dan zooplankton), mikro dan makrobenthos.
Upaya pengelolaan lingkungan agar dapat memenuhi kebutuhan dan mendukung kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan cara diantaranya melakukan  kegiatan pemantauan kualitas air atau pengelolaan kualitas air dan kesehatan ikan secara bersama-sama.

Pengelolaan kualitas air yang kontinyu merupakan faktor eksternal lain yang menentukan keberhasilan usaha budidaya, karena berkaitan yang erat antara lingkungan perairan dengan berkembangnya hama dan penyakit pada organisme air tawar yang dipelihara. Dengan demikian pengelolaan lingkungan budidaya akan menentukan keberhasilan dan keberlanjutan usaha budidaya.

Lingkungan perairan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keseimbangan fisiologis dari alat-alat tubuh ikan, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan reproduksi ikan.  Bila terjadi perubahan/ketidakseimbangan  dapat menimbulkan penyakit.

Lele dikenal mampu hidup dalam air yang kualitasnya rendah, namun budidaya lele dumbo lebih berhasil apabila kualitas air kolam juga baik. Kondisi yang ideal bagi kehidupan lele adalah air yang mempunyai pH 6,5-9 dan bersuhu 24–26 0C. Kandungan O2 yang terlalu tinggi akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung dalam jaringan tubuhnya. Sebaliknya penurunan kandungan O2 secara tiba-tiba, dapat menyebabkan kematian (Suyanto, 1986).

SUMBER:
Suyanto, S. Rachmatun. 1996. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta